Metode Qiraati

METODE QIRAATI

1. Tujuan Metode Qiraati
  • Menjaga dan memelihara kehormatan dan kesucian Al-Quran (dari segi bacaan tartil sesuai dengan kaidah tajwid).
  • Menyebarkan Ilmu Bacaan Al-Quran yang benar dengan cara yang benar .
  • Mengingatkan para guru Al-Quran agar berhati-hati dalam mengajarkan Al-Quran.
  • Meningkatkan kualitas pendidikan atau pengajaran Al-Quran.

2. Target Qiraati
Murid mampu membaca Al-Quran secara tartil sesuai dengan Kaidah Tajwid yang telah dicontohkan dan diajarkan Rasulullah Muhammad saw. secara mutawatir dengan uraian sebagai berikut:
Dalam waktu -/+ 2 tahun anak-anak sudah mampu khatam 30 juz (binnazhar):
  • Makhraj sebaik mungkin.
  • Mampu membaca Al-Quran dengan bacaan yang bertajwid.
  • Mengenal bacaan gharib dan musykilat (bacaan-bacaan yang asing).
  • Hafal (faham) ilmu tajwid praktis.
  • Mengerti shalat, bacaan dan praktisnya
  • Hafal surat-surat pendek minimal sampai Surah Adh-Dhuha.
  • Hafal doa-doa pendek .
  • Mampu menulis Arab dengan baik dan benar.

3. Sistem/Aturan Metode Qiraati
  • Membaca langsung tanpa mengeja.
  • Praktek bacaan bertajwid secara mudah dan praktis.
  • Susunan materi bertahap dan berkesinam-bungan.
  • Materi disusun dengan “sistem Modul/Paket”.
  • Banyak latihan membaca (drill).
  • Belajar sesuai dengan kesiapan dan kemam-puan murid.
  • Evaluasi setiap pertemuan.
  • Belajar dan mengajar secara “Talaqqi- Musyafahah”
  • Guru Pengajarnya harus di-tashih (Ijazah billisani)

4. Prinsip Dasar Metode Qiraati
Prinsip bagi Guru:
  • DAKTUN (Tidak-boleh-Menuntun)
  • TIWASGAS (Teliti-Waspada-Tegas)
Prinsip bagi Murid:
  • CBSA+M (Cara-Belajar-Siswa-Aktif dan Mandiri)
  • LCTB (Lancar : Cepat, Tepat dan Benar)

5. Filosofi Metode Qiraati
  • Sampaikan materi pelajaran secara praktis, simpel dan sederhana (mudah dipahami oleh murid), jangan terlalu rumit dan berbelit-belit (Imam Ghazali)
  • Berikan materi pelajaran secara bertahap, dengan penuh kesabaran (K.H. Arwani Amin, AH.)
  • Jangan mengajarkan yang salah kepada anak-anak, karena mengajarkan yang benar itu mudah (K.H. Dachlan SZ.)
Sumber: http://nun-learning-center.blogspot.com/2009/03/metode-qiraati.html
»»  Baca Selengkapnya.....

Read Users' Comments (0)

Sejarah Qiraati


Sejarah Penemuan Metode Praktis Belajar Membaca Al-Quran
Sejarah Penemuan kaedah Qiraati ini cukup panjang. Kerana hanya memerlukan pengamatan, penelitian, ujicoba yang memerlukan waktu yang cukup lama. Di sini kami akan bagikan kepada beberapa tahapan

1.       Permulaan Penemuan
Sebelum menemukan kaedah Qiraati ini beliau adalah seorang Guru mengaji dan seorang yang suka mengamati keadaan kelas-kelas mengaji di manapun beliau berkunjung.
Sebagaimana biasa sebagai seorang guru mengaji, beliau menggunakan kaedah yang biasa dikenali dengan Muqaddam atau Turutan atau biasa juga disebut kaedah Baghdadiyah.
Hasil daripada pengalaman dan pengamatan beliau, anak-anak murid yang beliau ajar ternyata sebahagian besar mereka hanya mampu meng-hafal huruf bukan mengerti huruf. Dan jika dapat membacapun ternyata bacaannya tidak tartil seperti apa yang dikehendaki dalam bacaan al-Qur’an yang baik. Dan biasanya waktu bagi murid-murid untuk menguasai bacaan tartil diperlukan waktu yang lama.
Berdasarkan pengalaman inilah beliau mencoba untuk mencari alternatif lain dengan cara membeli buku-buku kaedah baca al-Qur’an  dengan maksud agar dapat mencapai hasil yang lebih memuaskan.  Namun setelah mengamati semua kaedah yang ada, ternyata beliau masih belum menemukan kepuasan. Beliau tidak yakin dengan kejayaan kaedah-kaedah tersebut karena berbagai sebab. Seperti menggunakan contoh-contoh perkataan yang bukan dari bahasa Arab atau dari al-Qur’an bahkan ada yang berbunyi bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.
Sejak itulah beliau mecoba memperkenalkan huruf terus dengan barisnya sekali dengan bacaan yang lancar dan cepat. Dalam waktu yang sama, anak-anak diperkenalkan dengan huruf-huruf yang tiada berbaris. Hanya bedanya dengan sistem yang lama, kaedah Qiraati tidak mewajibkan anak murid mengeja huruf ketika akan membaca sebuah perkataan.
Ternyata setelah ujicoba berulang-kali, beliau mendapatkan tehnik susunan seperti yang sedia ada sekarang ini. Oleh itu susunan yang ada sekarang ini adalah hasil dari uji coba yang tidak perlu diragukan lagi.

2.       Awal Penyusunan Metode Qiraati.
Dengan dorongan keinginan hati untuk mengajarkan al-Qur'an dengan baik dan benar, serta dengan keberanian yang didukung oleh inayah dan hidayah Allah swt., Bapak H. Dahlan Salim Zarkasyi mulai mencoba menyusun dan menulis sendiri metode yang dikehendakinya itu. Yakni metode yang berhasil dalam mengajar membaca al-Qur'an yang sekaligus mudah dan disukai oleh anak-anak.
Supaya anak-anak mudah membaca dan betul-betul mengerti serta faham, maka beliau mencoba menulis pelajaran dengan bacaan "bunyi" huruf hijaiyyah yang sudah berharakat "fathah". Dalam pelajaran ini anak tidak boleh mengeja, misalnya alif fathah A, BA fathah BA, tetapi langsung membaca bunyi huruf yang sudah berharakat fathah tadi seperti: A-BA-TA dan seterusnya. Agar anak bisa membaca dengan baik dan benar, maka sejak awal sekali anak sudah diharuskan membacanya dengan lancar, cepat dan tepat, tanpa ada salah dalam membaca. Dengan demikian secara tidak langsung anak harus mengerti dan faham setiap huruf Hijaiyyah.
Demikianlah, dengan penuh kesabaran dan ketelitian, sehuruf demi sehuruf beliau mencoba untuk diajarkan kepada anak didiknya walaupun nampaknya lambat, tetapi anak-anak faham dengan baik. Agar anak terlatih dan dapat mem-baca benar, maka setiap contoh bacaannya diambil dari kalimat-kalimat al-Qur'an juga kalimat-kalimat bahasa Arab.
Setelah anak-anak lancar membaca huruf-huruf Hijaiyyah yang berharakat fathah, kemudian dicoba dengan huruf-huruf yang berharakat kasrah dan dhommah. Demikian pula dengan huruf yang berharakat fathah tanwin, kasrah tanwin dan dhummah tanwin.

3.       Pelajaran Bacaan Mad (bacaan panjang)
Sebagai seorang peniaga, Bapak H. Dahlan Salim Zarkasyi kerap mengunjungi banyak bandar dan pekan. Pada kesempatan ini beliau manfaat-kan waktu untuk mengamati kelas-kelas mengaji yang digunakan oleh guru-guru mengaji setempat. Seperti di surau-surau, musholla-musholla atau masjid-masjid.
Hasil dari pengamatan beliau tentang hasil bacaan murid-murid, beliau amat sedih dan prihatin mengingat mereka ternyata tidak mem-perhatikan bacaan panjang pendek. Hal ini biasa-nya disebabkan oleh kurangnya kewaspadaan guru terhadap bacaan murid terutama dalam bacaan mad asli (mad thabi'i).
Oleh itu sekembalinya dari perjalanan, beliau melihat pentingnya pelajaran mad asli atau mad thabi'i. Maka disusunlah pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan mad asli dan contoh-contoh perkataannya diambilkan dari al-Qur’an atau dari bahasa Arab. Kemudian diuji cobakan kepada murid-murid, manakala perkataan yang sukar akan diganti dengan perkataan yang lain yang lebih mudah difahami oleh murid--murid. Dan perkataan-perkataan tersebut di-tashih-kan kepada orang yang pakar al-Qur’an dan bahasa Arab agar setiap perkataan mempunyai makna yang sesuai.
Akhirnya tersusunlah pelajaran bacaan mad, yang diawali dengan pelajaran fathah diikuti alif, kasrah diikuti ya' dan dhummah diikuti waw.

4.       Huruf Sukun
Hampir bersamaan dengan awal penyusunan buku Qiraati pada tahun 1963 itu, bapak H. Dahlan Salim Zarkasyi bersama dengan sahabat-nya ust. ‘Abdul Wahid membentuk jamaah Mal-Jum (malam jum'at), yakni jamaah tadarus al-Qur'an untuk orang-orang dewasa. Suatu ketika saat tadarus al-Qur'an pada jemaah Maljum, beliau mendengar beberapa orang membaca huruf "Lam Sukun" salah. Ada yang membacanya dipanjangkan (ditahan lama lam sukun-nya), ada pula yang membaca menggantung atau 'tawallud' atau melantun sehingga terdengar bunyi pepet' (dalam bahasa Jawa), seperti Al-le, Allll....... Melihat keadaan yang demikian, timbul pemikiran bahwa bacaan "lam Sukun" perlu dan penting untuk diajarkan kepada anak-anak. Kemudian beliau mencoba menulis dan menyusun pelajaran Lam Sukun ini ternyata tidaklah mudah, yakni Lam Sukun yang dibaca jelas dan tegas. Namun dengan penuh kesabaran dan ketelitian, akhirnya tersusunlah juga pelajaran "Lam Sukun dibaca Jelas dan Tegas", yang kemudian sekaligus dirangkaikan dengan pelajaran bacaan al-Qomariyyah. Pelajaran bacaan al-Qomariyyah diberikan dengan tujuan untuk melatih anak membaca sambil melihat huruf-huruf yang akan dibaca di sebelahnya (di sampingnya). Setelah berhasil dengan Lam Sukun, beliau mencoba dengan huruf-huruf yang lain. Secara kebetulan beliau mencoba dengan huruf "sin sukun", ternyata tanpa kesulitan anak-anak langsung dapat membaca dengan mudah. Maka ditulislah contoh-contoh bacaan yang ada huruf Sin Sukun-nya.
Di tengah-tengah pengenalan huruf-huruf sukun ini, beliau menyusun pelajaran bacaan "Harfu Liin" (bacaan fathah yang diikuti Ya atau Waw sukun). Hal ini sangat penting untuk diajarkan dengan kesungguhan, karena banyak orang yang membaca al-Qur'an bersuara AO dan AE bukan bersuara AU dan AI, dan agar anak dapat membedakan bacaan harfu Liin dengan bacaan Mad.
Selanjutnya percobaan dengan huruf-huruf sukun ini dilanjutkan. Secara kebelutan pula beliau mencoba huruf "Ro’ sukun", ternyata dengan sangat mudah anak-anak dapat membaca dengan lancar. Begitu pula dengan mencoba huruf "Mim Sukun" ternyata murid tidak menemui kesukaran juga.
Sekalipun ada maksud untuk mencoba huruf sukun yang lain, ternyata dengan empat huruf sukun ini anak sudah dapat membaca sendiri huruf-huruf sukun yang lainnya. Sehingga pelajaran huruf-huruf sukun yang beliau tulis hanya "Empat Serangkai Huruf Sukun" saja, yakni Lam Sukun, Sin Sukun, Ro Sukun, dan Mim sukun. Sehingga huruf-huruf sukun yang lain tidak perlu diajarkan, karena setelah mempelajari dan mengerti keempat huruf sukun tadi, secara otomatis anak-anak telah dapat membaca huruf-huruf sukun yang lain.

5.       Malam Rahasia
Sebagaimana manusia umumnya, suatu ketika daya kreativiti Bapak H. Dahlan Salim Zarkasyi terhenti tidak ada inspirasi manakala tidak menge-tahui apa lagi yang harus diperbuat selanjutnya. Perasaan ini beliau rasakan pada saat ada keingin-an untuk mencari dan menyusun pelajaran yang diberikan kepada anak didik selanjutnya. Seperti-nya akal dan pikiran buntu tidak dapat menemu-kan jawabannya. Namun, jika Allah menghendaki semuanya akan menjadi mudah.
Untuk menenangkan pikiran dan hati yang risau beliau mendengarkan, dan mengamati anak-anak yang sedang belajar mengaji di salah satu masjid di kota Semarang. Satu persatu anak-anak itu beliau perhatikan dengan mendengarkan bacaan mereka. Namun sampai pada anak yang terakhir, tidak ada satupun bacaannya yang benar, yakni bacaan tartil menurut kaidah Ilmu Tajwid. Hasil pengamatan ini beliau sampaikan kepada guru ngaji anak-anak tadi, "Mengapa tidak ada satu pun dari anak-anak tadi yang membaca al-Qur'an dengan tartil?" Namun jawabannya sungguh mengejutkan beliau, "saya tidak sanggup kalau mengajar anak-anak supaya bisa membaca dengan tartil. Biarlah cukup anak-anak bisa membaca al-Qur'an dulu. Nanti kalau sudah khatam, barulah diajarkan ilmu Tajwid, tentu mereka akan mampu membaca al-Qur'an dengan tartil dengan sendirinya." Mendengar jawaban dari guru al-Qur'an seperti itu, jalan fikiran beliau tidak dapat menerimanya. Apakah mengajar bacaan tartil itu sukar? Jika sukar, kesukarannya dimana? Jika jawaban seorang guru ngaji seperti itu, lalu bagaimana dengan guru-guru ngaji yang bukan ahli al-Qur'an? Kenyataannya memang demikian, mana mungkin dapat menghasilkan bacaan tartil jika tidak belajar ilmu Tajwid.
Perasaan dan fikiran beliau menjadi resah dan susah di atas jawaban, bahwa "mengajar bacaan tartil itu sukar" sehingga terbawa-bawa dalam tidur beliau pada malam harinya.
Suatu ketika antara sedar dan tak sedar, beliau mendapatkan ilham dari Allah, seakan terpampang di hadapan beliau kunci pelajaran bacaan-bacaan tartil yang mesti diajarkan. Yakni dimulai dari "Nun Sukun" yang dibaca "Dengung" (yang dalam ilmu tajwid dinamakan bacaan ikhfa'). Malam ini disebut oleh Bapak Haji Dahlan Salim Zarkasyi sebagi “Malam Yang Luar Biasa”.
Keesokan harinya beliau mulai menulis dan menyusun pelajaran Nun Sukun yang tadi malam beliau temukan. Kemudian pada petang harinya beliau ujicobakan kepada murid-muridnya, ternyata anak-anak murid dengan mudah mampu mempelajarinya dan membacanya dengan baik dan benar sesuai dengan apa yang beliau kehendaki. Setelah berjaya dengan nun sukun, beliau mencoba dengan tanwin, yang suaranya sama dengan nun sukun. Selanjutnya disusunlah pelajaran bacaan Ghunnah yang diawali dengan Nun Bersyaddah dengan kiasan bahawa bacaan-nya sama dengan dengungnya Nun Sukun bertemu dengan Nun. Demikian pula dengan pelajaran Mim Bersyaddah dengan kiasan bacaan dengung-nya sama dengan Nun Bersyaddah.

6.       Akhir Penyusunan buku Metode Qiraati
Sebagaimana biasanya dalam menyusun pelajaran baru mesti ada penyebab yang menjadi punca pelajaran tersebut disusun. Demikianlah pelajaran seterusnya sehingga selesainya metode tersebut.
Di antaranya adalah bacaan huruf-huruf bersyaddah selain huruf nun dan mim yang bersyaddah. Suatu ketika dalam majlis tadarus al-Qur’an yang beliau ikuti banyak orang yang membacanya salah, terutama dalam membaca "Lam bersyaddah" iaitu membacanya dengan menahan suara huruf lam-nya. Melihat keadaan demikian, maka disusunlah pelajaran huruf-huruf bersyaddah yang mesti dibaca tegas dan terang serta cepat, yang kemudian dirangkaikan dengan pelajaran "AL Syamsiyyah".
Adanya pelajaran Mim sukun bertemu mim yang dibaca dengung dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang belum dapat membezakan antara bacaan mim sukun bertemu mim dengan bacaan mim sukun bertemu dengan selain mim dan ba'.
Adapun pelajaran nun sukun/ tanwin bertemu lam dan ro dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang membaca dengan menahan bacaan lamnya. Kemudian pelajaran dilanjutkan dengan pelajaran bacaan Nun sukun/tanwin bertemu dengan waw dan ya, yang dibaca idgham dengan dengung.
Sedangkan pelajaran waqaf di akhir ayat dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang salah dalam menghentikan bacaannya, iaitu seolah-olah setiap waqaf dibaca panjang padahal tidak semuanya begitu. Pelajaran membaca lafazh Allah dilatarbelakngi oleh bacaan yang salah.
Begitu juga dengan pelajaran Iqlab, qalqalah dan izhar halqi yang kesemuanya dilatarbelakangi oleh banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh para pembaca.

Demikianlah semua pelajaran yang telah berjaya beliau susun. kemudian dari tulisan-tulisan dikumpul-kan dan dijilid, ternyata terkumpul menjadi sepuluh jilid atau sepuluh buku. Kemudian buku-buku tersebut dicetak dengan sablon dan dibahagikan kepada murid-muridnya mengikut tahapan pencapaiannya.
 

Sumber : http://www.qiraati.com/content/view/13/28/
»»  Baca Selengkapnya.....

Read Users' Comments (0)

Catatan Perjalanan Penemu Metode Qiraati


“Kekasyafan, kekaromahan, dan power kewalian seseorang justru terkadang lebih tampak setelah ia meninggal.” (Imam Ghazali).
Memperbincangkan KH. Dahlan Salim Zarkasyi, tentu kita tidak bisa lenggang begitu saja tanpa menyinggung Metode Qiraati, sebagai hasil penelitian-nya (selama kurang lebih sepuluh tahun) di bidang pengajaran baca al-Qur’an. Sementara mendiskusikan Metode Qiraati pula kita tidak bisa meninggalkan aturan main baca al-Qur’an (ilmu Tajwid).
Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikat Jibril, dan diteruskan kembali kepada umat seluruh alam. Kitab suci, sebagai kebenaran kerasulan Muhammad saw., tertulis dalam bentuk mushaf yang mutawatir, juga muta’abbad bi tilawatih (berpahala jika dibaca). Diturunkan secara berangsur selama kurang lebih dua puluh tiga tahun dalam dua periode, Makah dan Madinah.
Dalam kurun waktu lebih dari 14 abad lamanya Kitab Suci tersebut dibaca dan dipelajari. Dibaca karena sebagai petunjuk dan obat (hudan wa syifa’), sedang dipelajari guna meraih petunjuk dan obat.
Yang membaca dia akan mendapatkan petunjuk, yang mempelajari dia akan menemukan obat/formula, sedangkan yang membaca dan mempelajarinya dia akan sampai pada keduanya, yakni petunjuk dan obat/formula.
Salah satu obat atau formula adalah lahirnya ilmu Tajwid. Tajwid diambil dari jawwada, berarti pem-bagusan atau perbaikan bacaan. Kata ini mengisyarat-kan pada kita bahwa “perbaikan” adalah sebuah kewajiban. Kewajiban yang tiada henti. Usaha secara terus menerus yang mungkin tiada akhir. Namun ukurannya bisa sangat sederhana yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin. Makna tajwid secara teknis menjadi, mengucapkan setiap huruf secara benar hingga tidak meninggalkan sifat-sifatnya, seperti istifal-isti’la’, hams, dan jahr. Juga syiddah-rakhawah dimana saat melafadzkannya akan muncul ketentuan-ketentuan seperti tarqiq-tafkhim, izh-har-idgham, mad dan lain sebagainya.
Karena itu, mengetahui tajwid adalah menumbuh-kan seni baca Kitab Allah, melestarikan keindahannya dengan ke-fashih-an dari awal baca sampai akhir dan berhenti (waqaf). Dengan demikian, yang ngaji akan terjaga lisannya dari kesalahan dan berpahala. Begitulah kiranya Ibn Jazari (751-833 H.) berpendapat bahwa hukum membaca al-Qur’an dengan mujawwad murattal adalah wajib. Pendapat ini beliau rangkum dalam barisan syair merentang sepanjang bait 71-74 dalam karya monumentalnya Matan Jazariyah.:
Sedangkan Metode Qiraati adalah sebuah cara mengajar baca al-Qur’an secara baik dan benar (mujawwad murattal). Metode ini terangkum dalam bentuk buku-buku kecil berkelompok yang disesuai-kan dengan kaidah ilmu Tajwid. Jadi, siapapun yang membaca buku tersebut akan menemukan sebuah harapan, bahwa ia akan dapat membaca secara mujawwad murattal. Membaca tanpa meninggalkan kaidah-kaidah yang telah digariskan oleh ilmu Tajwid, meskipun orang tersebut belum pernah belajar ilmu Tajwid. Namun perlu disadari, sebaik apapun sebuah metode mengajar cara baca al-Qur’an jika tidak diimbangi dengan guru-guru yang baik maka hasilnya pun kurang maksimal. Demikianlah yang dinginkan KH. Dahlan Salim Zarkasyi, yakni, mencetak anak-anak yang baik (bacaannya) melalui guru-guru yang baik (bacaannya) pula. Inilah salah satu alasan menarik kenapa biografi beliau diperbincangkan.]
Pada awalnya KH. Dahlan Salim Zarkasyi sendiri kurang setuju perihal hukum baca al-Qur’an dengan baik dan benar adalah fardlu ‘ain. Sementara mem-pelajari Ilmu Tajwid adalah fardlu kifayah. “Bagaimana mungkin seseorang dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan benar jika tidak mengetahui hukum tajwidnya.” Pertanyaan ini kemudian Beliau ajukan ke beberapa Kyai ahli al-Qur’an di Jawa Tengah. Dari sini beliau dapat bekal berupa bukti-bukti dan argumentasi yang kemudian dijadikan sebagai dasar pola penyusunan Buku Metode Qiraati.
Hal lain yang patut kita perhatikan dari KH. Dahlan Salim Zarkasyi adalah mengenai kritiknya terhadap dunia pendidikan. Sebagian besar guru masih menganggap bahwa anak adalah objek pendidikan, bukan pelaku. Padahal sebenarnya mereka adalah pelaku, yang belajar bukan yang diajar. Karena jika anak-anak sebagai pelaku, maka setiap anak memiliki kesempatan untuk bisa. Kemampuan untuk menyerap ilmu yang disampaikan para guru. Oleh karena itu, KH. Dahlan Salim Zarkasyi menyimpulkan bahwa tidak ada anak yang tidak bisa belajar, tapi yang ada adalah guru yang tidak bisa mengajar. Karena itu jangan heran jika di “lingkungan” Qiraati kualitas guru sangat diperhatikan.
Saya pernah bertanya mengenai damonan, resep keberhasilan Beliau dalam mengajar. Ternyata, jawabannya pun sangat sederhana. Jauh, di luar apa yang saya pikirkan. Selain seorang guru harus selalu sabar, syukur, dan ikhlas. Seorang guru juga harus mampu mengatakan bahwa, “aku butuh mengajar.”
Sabar, syukur, dan ikhlas. Tiga kata ini memang sangat mudah dikatakan, mungkin tak semudah pelaksanaannya. Tapi jika ada kemauan, toh jalan pasti akan terbuka. Jika kita mau merenung sebentar, Tiga sifat tersebut memang sudah seharusnya dimiliki siapa saja yang berjiwa “mendidik.”
Sikap (sabar, syukur, dan ikhlas) ini merupakan buah dari bentuk tirakat seorang pendidik. Tirakat adalah meninggalkan hal-hal yang selayaknya tidak dimiliki, dilakukan, atau dibiasakan oleh seseorang. Di sini, bukan ketika sifat itu harus ditinggalkan, melain-kan guru seyogyanya membuang jauh-jauh sikap-sikap yang berlawanan dengan ketiga sifat tersebut. Ketiga sifat itu harus selalu ditumbuhkan dan dijaga. Singkatnya, jika ketiga sifat ini dipraktekkan, maka orang tersebut akan segera menyadari posisi sebenar-nya. Bahwa tugas guru hanyalah menemani dan mengarahkan, bukan yang menentukan atau pemberi otoritas ilmu.
Dengan demikian, jika proses belajar selesai, semua dititipkan dan diserahkan kembali kepada Allah Yang Maha berilmu. Maka yang terjadi seorang guru tidak akan pernah lewat mendoakan murid-muridnya. Karena itu wajar jika keberhasilan KH. Dahlan Salim Zarkasyi selalu diiringi dengan sikap tawadhu’ yang selalu kita ketahui dari dawuh-dawuh Beliau, “ini semua inayah (pertolongan) Allah…, ini semua kersane (kehendak) Gusti Allah…”.
“Aku butuh mengajar....!”
Pernahkan kita berpikir demikian, terucap di dalamnya hati. Coba kita renungkan dawuh KH. Dahlan Salim Zarkasyi ini. Siapapun yang butuh, dia akan tergerak dan bangkit. Berusaha meraih sekuat tenaga terhadap apa yang ia butuhkan. Pesan tersebut bukanlah sembarang pesan, tapi sebuah motivasi tingkat tinggi. Saudara, renungkanlah!
***
Tidak banyak pola penulisan biografi dibungkus dengan kado ala cerpen (cerita pendek) seperti buku ini. Tampil dengan wajah yang berbeda, buku ini mengikat dan seperti tidak mau meninggalkan setiap detik yang telah dilakoni KH. Dahlan Salim Zarkasyi. Abu bakar dengan gayanya sendiri, lincah dan berhasil menampilkan kembali setiap kisah dari KH. Dahlan Salim Zarkasyi menjadi nyata dan hidup. Capek dan berkeringat. Empati dan menggugah. Maju dan menerobos.
Pilihan kata yang cerdas juga telah mengungkap kepermukaan sisi-sisi lain kehidupan KH. Dahlan Salim Zarkasyi selain sebagai guru ngaji. Lugas bertutur namun sederhana, membuat buku ini mudah diikuti dan diingat. Membaca biografi ini, anda akan mendapatkan banyak pelajaran. Di setiap tema yang disuguhkan mengandung hikmah yang menggugah kesadaran kita yang terpendam. Sehingga rasanya tidak enak melewatkan meskipun hanya satu anak judul. Lihat saja di setiap bagian-bagiannya, dimana dengan sengaja pola penulisan dikelompokkan se-demikian rupa supaya pembaca lebih mudah mengenali KH. Dahlan Salim Zarkasyi. Sementara di bagian akhir pembaca akan mendapati gambar-gambar dan rujukan-rujukan yang dapat dipertanggungjawab-kan supaya pembaca sekalian lebih yakin tentang sosok penemu Metode Qiraati.
Buku “Aku Butuh Mengajar, Dahlan Salim Zarkasyi Bapak TK al-Qur’an” ini adalah buku awal untuk memperkenalkan pribadi yang gigih, peneliti yang ulet, seorang Ayah yang berteman, sederhana, empati, dan cinta dunia anak. Pada bagian awal dan kedua mengisahkan tentang kegigihan dan keuletan Dahlan kecil. Suasana politik yang kacau dan negara dalam penjajahan, mengakibatkan perekonomian bangsa ambruk terseok-seok. Kondisi inilah yang merebut keindahan masa kanak-kanak dan remajanya. Ia harus bersabar karena bekerja, meskipun pada penjajah.
Kemudian, pertemuannya dengan para Kyai Sepuh membuat perubahan total dalam berpikir dan menyikapi kehidupannya. Apalagi setelah menyaksi-kan di beberapa tempat, musolla-musolla, masjid-masjid, dan tempat-tempat pengajian lain masih dijumpai banyaknya kesalahan dalam membaca al-Qur’an. Hal inilah yang menggerakkan Beliau untuk meguru dan menyulap rumahnya menjadi laboratorium. Setelah sepuluh tahun melakukan penelitian, uji coba lapangan, Beliau menemukan satu formula. Suatu susunan bentuk tetap. Satu rumusan cara mengajar baca al-Qur’an dengan baik dan benar. Kontan, semua pekerjaan dan kesibukan yang meng-gelayut pada pundaknya, Beliau tinggalkan. Walaupun sebagai pedagang beliau sukses. Meski sebagai tukang pijat beliau pun telah dipercaya.
Ada beberapa kemungkinan kenapa muncul rasa empati pada hati kita. Empati adalah keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Rasa ini muncul jika kita menyadari betul bahwa kehidupan ini adalah amanah. Titipan yang tidak kemudian kita gunakan dengan semau-maunya. Tapi menggunakannya sebagai bahan pertanggungjawaban kelak di hadapan Sang Khaliq. Rasa ini juga dapat muncul jika dalam kehidupan seseorang pernah di-ampiri kepayahan, kesulitan, atau persoalan lain yang bebannya sama.
Sikap empati yang dipraktekkan KH. Dahlan Salim Zarkasyi dengan keberpihakkannya pada para tunanetra yang ditampung di rumahnya adalah bukti keberhasilannya menghayati makna amanah kehidupannya. Tidak cukup disitu, beliau juga meng-ajari para tunanetra itu dengan berbagai ketrampilan yang kelak dapat menopang kehidupan mereka, tanpa harus meminta lagi belas kasihan pada orang lain. Juga tetang konsep bersedekah Beliau yang justru sering diremehkan orang.
Suatu saat, setelah Beliau menerima tamu, Beliau pernah berujar pada putra-putrinya, “tamu-tamu itu akan lebih banyak lagi setelah aku meninggal.”
Akhirnya, meskipun lebih terkesan sebagai catatan berserak,semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua, juga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sosok KH. Dahlan Salim Zarkasyi. Bagi mereka yang kebetulan bergelut dibidang yang sama, yakni sebagai guru ngaji, semoga buku ini bisa menjadi semacam inspirasi.

»»  Baca Selengkapnya.....

Read Users' Comments (0)

Cara Mengatasi “Absorber Ink Is Full” Printer Canon iP1980

Semua merk printer ink jet menyediakan bak khusus yang berisi gabus penyerap tinta. Letaknya di bagian dasar printer canon.

Berikut langkah mencuci gabus absorber printer canon PIXMA IP 1980 :
1. Buka casing printer dengan hati-hati,
a. Pertama-tama kamu buka pakai obeng kecil casing sisi kanan dan sisi kiri printer,


b. kemudian teruskan dengan membuka body casing bagian atas printer, kamu buka dulu baut bagian depan lalu baru buka bagian belakang. lihat gambar ini :


C. Nah ini yang agak rumit, kamu tinggal membuka bebrapa baut satu persatu yang menempel di body printer dan pengait. Kalo takut lupa pasangnya kamu beri tanda khusus (tanda panah) pada bagian tertentu. Ingat betul-betul pengaitnya ini penting saat Anda memasang kembali casing printer.


2. Angkat penutup absorber kemudian keluarkan gabus absorber dari bak penampung.
3. Masukkan gabus absorber pada bak/ timba plastic yang berisi air. Lebih disukai bila airnya hangat. Untuk menghindari agar tangan anda tidak terlalu kotor gunakan sarung tangan plastic. Cuci dan peras gabus hingga dipastikan gabus bersih dari tinta.
4. Jemur gabus absorber yang telah dicuci di terik matahari hingga kering, apabila anda merasa ingin cepat memakai printer, tidak mengapa gabus yang belum kering dipasang kembali pada tempatnya. Pastikan selang saluran pembuangan sudah benar mengarah ke gabus absorber.
5. Sebelum kamu pasang kembali casing printer, ada baiknya selang pembuangan kamu keluarkan dari dalam printer tersebut dan kamu sediakan tempat khusus untuk pembuangan tinta tersebut. Kini printer dalam kondisi lebih fresh dalam menyerap tinta. Resiko melubernya tinta absorber ke bagian lain dari printer bisa di hindari dan printer lebih siap untuk mencetak.
kalo masih ngeblink kamu reset aja printernya.
Ini ada sedikit cara untuk mereset printer canon .
1. Cabut kabel Power
2. Tekan dan tahan Tombol “Power” (On/Off)
3. Masukkan kembali kabel Power
4. Tekan “Reset” dan lepaskan
5. Lepaskan tombol “Power”
6. Apabila berhasil lampu Alarm akan menyala.
dan jika masih blinking juga, kamu coba lagi beberapa kali. Tapi kalo masih blink juga. Ada jalan terakhir yaitu kamu bawa ke tempat service. Berarti printer kamu perlu uang service lebih.
»»  Baca Selengkapnya.....

Read Users' Comments (0)

lulus, konvoi dan 'coret baju'....

Setelah diumumkannya kelulusan UN beberapa hari yang lalu, banyak siswa yang tidak lulus dan lulus. Akan tetapi yang mengherankan disini bukanlah masalah 'lulus' atau 'tidak lulus' nya, tetapi bagaimana cara kita menyikapinya dengan baik.

Ada yang lulus, tetapi saya sebenarnya kecewa melihat siswa yang lulus. Kenapa? Saya melihat setelah diumumkannya kelulusan, banyak konvoi kendaraan yang mengelilingi kota Banjarmasin. Apakah merayakan kelulusan harus dengan 'upacara' konvoi di jalan? Tidak kan? Tidak sepatutnya bagi orang yang terpelajar untuk ber'konvoi' di jalan. Karena dengan konvoi bis amengganggu pengguna jalan yang lain, bahkan konvoi bisa menyebabkan macet. Belum labi ditambah mereka yang mencoret-coret baju seragam mereka. Apakah hal tersebut juga harus dilakukan? Tidak kan? Akan lebih baik apabila baju seragam yang sudah tidak terpakai lagi, kita berikan kepada yang tidak mampu dan membutuhkan. Banyak anak-anak yang tidak bisa membeli baju seragam yang baru untuk tahun ajaran baru mereka.
Apabila 'konvoi' dan acara 'coret baju' tersebut termasuk dari suatu kebudayaan, maka itu bukan kebudayaan yang baik, yang harus kita tinggalkan dan kita ganti denga kebudayaan yang lebih baik lagi.
Apabila semua itu adalah suatu kebiasaan, maka seharusnya kita tidak membiasakan lagi hal tersebut.
Apakah mereka yang lulus tersebut tidak dididik untuk tidak melakukan hal yang sia-sia? Apabila mereka sudah dididik, berarti sesungguhnya mereka tidaklah lulus dalam pengamalan suatu ilmu pengetahuan. dan apabila mereka tidak dididik, berarti sekolah yang telah melulusan mereka tersebut telah gagal dalam mendidik generasi muda penerus bangsa ini.
Seharusnya di sekolah diajarkan tantang mana hal yang berguna untuk dilakukan dan yang tidak berguna untuk dilakukan. Apabila tidak diajarkan hal tersebut, maka sebenarnya sekolah tersebut tidak patut untuk dijadikan sekolah dan tidak patut ada.

Thanks....
Wassalam....
»»  Baca Selengkapnya.....

Read Users' Comments (0)

Mengatur Waktu untuk Beribadah

Tadi pagi (jum'at, 19/06) saya mengikuti pengajian di Mesjid Al Jami, yang dipimpin oleh KH. Husin Naparin, Lc. MA. Beliau adalah dosen saya sekaligus ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Jami yang ada di Banjarmasin.
Saya merasa sangat senang karena bisa mengikuti pengajian tersebut. Pengajian tersebut dilaksanakan setiap jum'at pagi, tepatnya sesudah sholat shubuh berjama'ah di mesjid tersebut.
Salah satu dari isi materi yang disampaikan beliau tadi pagi adalah tentang bagaimana cara kita membagi waktu untuk beribadah kepada Allah SWT. Beliau mengatakan bahwa apabila kita melaksanakan sholat, jangan hanya mengerjakan yang wajibnya saja, tapi juga harus melaksanakan yang sunnat-sunnat, seperti sholat sunnat rawatib, tahajjud, witir, dan lain-lain.
Kenapa kita harus menambah dengan yang sunnat-sunnat? Hal itu gunanya agar menutupi kekurangan yang ada pada yang wajib. Jadi, sholat yang kita kerjakan tidak menjadi 'bolong'.
Mengapa kita harus harus sholat setiap hari? Salah satu alasan yang diungkapkan beliau adalah untuk menjaga 'martabat kemanusiaan' kita. Karena apabila kita tidak melaksanakan sholat, maka tidak ada bedanya dengan hewan.
Dan salah satu alasan mengapa Allah mewajibkan kita melaksanakan sholat adalah karena Allah sangat mencintai kita sebagai hambanya. Dia tidak ingin kita seperti hewan yang tidak sholat. dan Dia ingin kita termasuk hamba-hambanya yang bertaqwa kepada-Nya.
Maka seharusnya kita sebagai orang muslim, kita harus meluangkan waktu kita untuk beribadah, seperti sholat, menuntut ilmu agama, dan sebagainya, jangan hanya bekerja dan terus bekerja sehingga mengabaikan waktu untuk beridabah kepada Allah SWT.
Sekarang banyak orang yang berpikir keras agar usahanya ataupun bisnisnya menjadi lebih maju. Tetapi sedikit sekali orang yang berpikir keras untuk akhiratnya.
Padahal 'bisnis akhirat' lebih menguntungkan. Karena apabila kita 'untung', maka kita akan untung untuk selama-lamanya. Tapi apabila kita 'untung' dalam 'bisnis dunia', belum tentu kita dapat menikmati hasil usaha kita tersebut untuk selamanya.
Sekarang banyak diajarkan bagaimana menggunakan 'otak kanan', tetapi hanya untuk kehidupan dunia saja, dan tetapi sedikit sekali diajarkan bagaimana cara menggunakan 'otak kanan' untuk kehidupan akhirat, seperti memperbanyak amal ibadah.
Apakah kita hidup hanya untuk mencari kekayaan di dunia saja? Tidak kan? Kita harus berusaha mencari bekal untuk hidup di akhirat kelak.
Banyak orang menggunakan waktunya untuk kehidupan di dunia, tetapi sedikit sekali orang yang menggunakan waktunya untuk kehidupan akhirat.
Janganlah kita mencari perhatian dari manusia, tetapi carilah perhatian dari Yang memiliki manusia, yaitu Allah Yang Maha Kuasa, yang memiliki segala yang ada.
»»  Baca Selengkapnya.....

Read Users' Comments (0)

Google

Followers